Rumah ini (Teuku Lambak) merupakan rumah bersejarah milik Uleebalang Kenegerian Idi Cut, yang telah ada sejak dulu. Menurut ahli waris, rumah tersebut dibangun pada tahun 1852. Rumah ini pertama kali ditempati oleh Teuku Lambak, seorang tokoh penting yang juga dikenal sebagai pendiri awal wilayah Idi Cut. Teuku Lambak adalah sosok yang berperan besar dalam membuka dan mengembangkan daerah ini. Makam Teuku Lambak terletak dekat dengan rumah Aceh yang menandai jejak sejarahnya yang tak terlupakan.
Rumah Teuku Lambak memiliki nilai sejarah yang tinggi, tetap berdiri di tempat yang sama sejak awal didirikan. Meskipun begitu, kondisi rumah kini mulai termakan oleh waktu, terutama serangan rayap yang merusak berbagai tiang atau pilar utama yang menopang struktur bangunan. Namun, bahan-bahan konstruksi asli rumah ini, termasuk pilar-pilar utama yang didirikan di atas batu granit atau batu keras, masih terjaga hingga saat ini. Rumah Teuku Lambah masih berfungsi selayaknya rumah dan masih ditempati hingga saat ini (2024).
Rumah Teuku Lambak bukan hanya sekadar bangunan tua, tetapi merupakan saksi bisu sejarah panjang daerah Idi Cut. Setiap sudut rumah ini menyimpan kenangan dan nilai-nilai budaya yang penting, menjadikannya sebagai bagian penting dari warisan sejarah local yang perlu dijaga dan dilestarikan.
Belanda mengenalnya dengan sebutan Cut Lambah. Bersama dengan Tengku Ali, Cut Lambah merupakan salah satu penentang kekuasaan Belanda yang gigih di wilayah Aceh. Ia adalah saudara dari Raja Idi Cut, yang juga dikenal sebagai Idi Kecil atau Panglima Perang Nja Boegam. Cut Lambah adalah salah satu tokoh yang menolak tunduknya kenegerian di wilayah Idi ketika Belanda melakukan ekspIdisi ke pesisir timur Aceh.
Cut Lambah menunjukkan keteguhannya dalam melawan penjajahan Belanda dengan hadir saat pengibaran bendera di Idi Besar (Rayeu) dan menentangnya. Pada tahun 1873, ia menjabat sebagai kepala Tapian Batoe (Teupin Batee) di Idi Besar. Karena sikapnya yang menentang, Cut Lambah diasingkan oleh raja dan melarikan diri ke wilayah Idi Cut.
Atas perintahnya, Lebei Blang melakukan pembunuhan terhadap seorang marinir di benteng Idi pada tahun 1873. Peristiwa ini menunjukkan keberanian dan tekad Cut Lambah dalam melawan kekuasaan kolonial. Panglima Perang Nja Boegam kemudian memohon pengampunan untuk Cut Lambah dan mengajukan izin agar ia bisa kembali ke Tapian Batoe, tempat di mana ia memiliki kebun lada yang merupakan sumber penghidupannya. Tanpa janji tertentu, persetujuan tersebut bergantung pada perilaku Cut Lambah selanjutnya.
Pada Juni 1873, Raja Idi Cut mengulangi permintaan tersebut dengan janji untuk berperilaku baik. Namun, beberapa hari kemudian terbukti bahwa Cut Lambah merencanakan untuk menyerang Idi dan ia secara terbuka didukung oleh Tengku Muda Alie. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun berada di bawah tekanan dan pengawasan, semangat perlawanan Cut Lambah tidak pernah pudar.
Cut Lambah adalah contoh nyata dari keberanian dan keteguhan hati dalam menghadapi penjajahan. Keberaniannya untuk menentang pengibaran bendera Belanda di tanahnya sendiri, serta upayanya untuk mempertahankan wilayah dan kebun ladanya, mencerminkan semangat perjuangan rakyat Aceh yang gigih dan pantang menyerah. Meskipun menghadapi berbagai rintangan dan ancaman, Cut Lambah tetap berdiri teguh melawan penjajahan, menjadikannya salah satu pahlawan yang patut dikenang dalam sejarah perlawanan Aceh terhadap kolonialisme Belanda.
Nisan Makam by ghozaliq on Sketchfab